shelter
singgah
pelabuhan
penglupaan
percintaan
kemunafikan
kebohongan
shelter
transit
pelampiasan
aku
kebodohan
kemunafikan
ketulusan
kebohongan
kamu
korban
ketidakpedulian
kebohongan
shelter
persinggahan
Sabtu, 23 Februari 2013
Rabu, 20 Februari 2013
Di Baiturahman
Aku berbincang pada Tuhan. Kali ini kubah itu menatapku tajam, seraya tak pernah ijinkanku datang ke tempat ini. Banyak dosa yang ku perbuat seperti pasir di lautan. Namun, aku tetap tak pernah takut karena aku yakin Tuhan itu Pemaaf, dan manusia tak patut untuk mencitrakanku sebagai penghuni neraka.
Di tempat ini, entah reflek atau tidak, aku menangisi semua hal. Ya. Semua hal. Karena aku tahu hanya pada Nya lah aku bisa mengadu apa saja. Sujud ku perlambat. Aku nikmati gerak setiap gerakan, hanya untuk membuatnya sedikit tersenyum denganku. Entah, Dia memaafkanku atau tidak, tetapi ini kali pertama aku menangis di depan umum. Di Baiturahman.
Semua dosa itu sudah pastilah aku sesali. Aku salah. Dia juga salah. Semua perilaku dan tindakan kita salah. Dan, aku hanya berucap dalam hati dalam tangis dan dalam harapan dalam.
"Tuhan, aku salah. dia salah, dan kita adalah makhluk yang paling punya banyak salah. Kami mencinta dengan cara yang salah. Kami bertaubat Tuhan. Aku tak mau menggerai sesal tak berguna kemudian mengulangi banyak salah. Aku juga tak mau mengulangi hal dengan oranglain, karena itu akan membuatku mengulangi salah lagi. Kini, biarlah aku belajar menjadi baik, dia belajar menjadi baik, walaupun tak ada ukuran pasti mengenai kebaikan. Dan setelah kami benar-benar baik, pertemukanlah aku dengannya dalam waktu yang tepat, agar aku dan dia benar-benar bertemu dalam suatu hari pilihanmu, hari yang baik pula. Apabila memang kami tak pernah bisa dipertemukan dalam kebaikan nyata, maka doaku Tuhan, pertemukanlah aku dengannya dalam tempat yang baik (surga).
Aku tak ingin buat kesalahan dengan orang lain, biarlah aku perbaiki kesalahanku untuk tetap dipertemukan olehnya. Amin
Hambamu yang tak baik, namun berusaha menjadi baik
Maya
Minggu, 17 Februari 2013
Silahkan Membenci
Aneh. saya itu disebutnya sebuah dosa. Iya mungkin. Seolah saya hina sekali di matanya. Saya yakin Tuhan telah memaafkan kesalahan saya, karena pernah memilihmu untuk menjadi orang yang dicinta. Maaf, saya bukan pendengki pemarah pendendam seperti apa-apa yang kamu lakukan terhadap saya. Jauh-jauh hari maaf itu sudah hilang bersamaan dengan teriakan saya di dunia fantasi.
Saya habiskan waktu untuk bersenang-senang. Bukankah kamu yang menyuruh saya untuk bangun pagi, bangun sore, bangun malam, dan bangun setiap saat ketika terlepas darimu?
Kamu, juga yang merasa bebas terlepas dari saya, padahal saya tidak pernah mengatur apa-apa. Saya bukanlah dalang di permainan ini. Saya lakukan senatural mungkin. Saya lakoni diri saya seoriginal mungkin buat kamu. Dan itu dosa katamu.
Jika kau menghilang, maka menghilanglah. Bukankah itu maumu menghilang. Jangan pernah sebut saya wanita pecundang sebelum kamu tahu dahulu siapa saya sebenarnya. Di dalam hutan itu pernah terdapat hewan buas yang saya makan hidup-hidup. Di tebing terjal itu pernah saya daki tanpa sepasang kaki. Dan harusnya kau tahu itu. Sayalah si pembual itu. Hanya di depanmulah saya berpura-pura lemah, agar kamu bisa merasa kuat atas dirimu. Hanya padamulah saya ingin menjadi orang yang kalah. Agar kamu bahagia ketika kamu bisa memenangi saya.
Dan kamu menang dalam kepura-puraan saya.
Jadi apakah kamu sudah merasa bingung dan sudah pandai menebak-nebak hati saya kembali?
Di persimpangan jalan itu, masih ada bercak darah saya di jalan. Sengaja saya tak bersihkan, agar kamu melihat bahwa di sana saya pernah terjatuh dan kamu sesegera mungkin menolong saya kala itu. Di tengah taman itu juga masih tersisa ampas kopi bekas kamu minum waktu itu. Saya lah si pembuat museum itu. Membuat museum atas semua kenangan tentang kamu.
Tuhan, telah mengambilmu dari saya. Dan saya tidak pernah bisa jadi resistor atasNya. Karena katamu itu dosa. Ya, ya, ya.. Sayalah si dosa itu. Yang tak tahu malu masih saja berputar-putar di sekitarmu. Kamu yang kini sudah berjaya atas kesenanganmu, takkan lagi saya tampakkan segalanya padamu, karena kau bilang "SAYA BAHAGIA JIKA KAMU TIDAK ADA" maka, saya akan membuat kebahagiaanmu itu menjadi nyata.
Saya habiskan waktu untuk bersenang-senang. Bukankah kamu yang menyuruh saya untuk bangun pagi, bangun sore, bangun malam, dan bangun setiap saat ketika terlepas darimu?
Kamu, juga yang merasa bebas terlepas dari saya, padahal saya tidak pernah mengatur apa-apa. Saya bukanlah dalang di permainan ini. Saya lakukan senatural mungkin. Saya lakoni diri saya seoriginal mungkin buat kamu. Dan itu dosa katamu.
Jika kau menghilang, maka menghilanglah. Bukankah itu maumu menghilang. Jangan pernah sebut saya wanita pecundang sebelum kamu tahu dahulu siapa saya sebenarnya. Di dalam hutan itu pernah terdapat hewan buas yang saya makan hidup-hidup. Di tebing terjal itu pernah saya daki tanpa sepasang kaki. Dan harusnya kau tahu itu. Sayalah si pembual itu. Hanya di depanmulah saya berpura-pura lemah, agar kamu bisa merasa kuat atas dirimu. Hanya padamulah saya ingin menjadi orang yang kalah. Agar kamu bahagia ketika kamu bisa memenangi saya.
Dan kamu menang dalam kepura-puraan saya.
Jadi apakah kamu sudah merasa bingung dan sudah pandai menebak-nebak hati saya kembali?
Di persimpangan jalan itu, masih ada bercak darah saya di jalan. Sengaja saya tak bersihkan, agar kamu melihat bahwa di sana saya pernah terjatuh dan kamu sesegera mungkin menolong saya kala itu. Di tengah taman itu juga masih tersisa ampas kopi bekas kamu minum waktu itu. Saya lah si pembuat museum itu. Membuat museum atas semua kenangan tentang kamu.
Tuhan, telah mengambilmu dari saya. Dan saya tidak pernah bisa jadi resistor atasNya. Karena katamu itu dosa. Ya, ya, ya.. Sayalah si dosa itu. Yang tak tahu malu masih saja berputar-putar di sekitarmu. Kamu yang kini sudah berjaya atas kesenanganmu, takkan lagi saya tampakkan segalanya padamu, karena kau bilang "SAYA BAHAGIA JIKA KAMU TIDAK ADA" maka, saya akan membuat kebahagiaanmu itu menjadi nyata.
Selasa, 12 Februari 2013
Reading Back of Summer
Jalan kita terjal. Sampai tumit kita kaku tak berasa. Kita sudah lama berpikir dengan segudang logika. Namun, jika kau baca lagi hati kita tak mampu membohongi otak rasional kita. Selang beberapa waktu aku tak pernah menemuimu di simpangan jalan itu. Aku mencari kode-kode yang mampu mengingatkan kembali langit merah jambu kala itu.
Summer. Kau yang tinggalkan aku melalui guratan penamu. Aku iseng. Aku jenuh kubuka lagi folder mu, kubuka lagi guratan ceritamu. Masih indah sampai kini. Deretan kata itu ternyata pembual belaka. Kerdil sekali mengingatkan satu musim di antara musim-musim lain yang berebutan pasang aksi.
Seonggok daging, tak punya malu. Menjerit ditiupkan roh sang Dewata, kini kembali menggugat protes seraya memohon "Kembalikan musim itu". Musim semi yang daun-daunnya muncul hijau pekat, serta batang gontai melandai kekar untuk menopang kelopak bunga besar berwarna cerah.
Aku tak bisa protes. Aku kecil di atas kursi. Ini memang musim kemarau, yang di dalamnya dirajut doa-doa manusia. Maka, sekali lagi "Kembalikan musim itu". Musim yang diwarnai awan yang saling berkawan, serta embun pagi yang selalu siap berbagi. Bukan kebencian yang terpatri.
Harus patuh maka ku diam. Dilarang marah maka ku diam. Dilarang sedih maka ku diam. Dilarang cinta maka ku diam. Summer, aku berdiam menunggumu kembali selepas kemarau. Sekian
Summer. Kau yang tinggalkan aku melalui guratan penamu. Aku iseng. Aku jenuh kubuka lagi folder mu, kubuka lagi guratan ceritamu. Masih indah sampai kini. Deretan kata itu ternyata pembual belaka. Kerdil sekali mengingatkan satu musim di antara musim-musim lain yang berebutan pasang aksi.
Seonggok daging, tak punya malu. Menjerit ditiupkan roh sang Dewata, kini kembali menggugat protes seraya memohon "Kembalikan musim itu". Musim semi yang daun-daunnya muncul hijau pekat, serta batang gontai melandai kekar untuk menopang kelopak bunga besar berwarna cerah.
Aku tak bisa protes. Aku kecil di atas kursi. Ini memang musim kemarau, yang di dalamnya dirajut doa-doa manusia. Maka, sekali lagi "Kembalikan musim itu". Musim yang diwarnai awan yang saling berkawan, serta embun pagi yang selalu siap berbagi. Bukan kebencian yang terpatri.
Harus patuh maka ku diam. Dilarang marah maka ku diam. Dilarang sedih maka ku diam. Dilarang cinta maka ku diam. Summer, aku berdiam menunggumu kembali selepas kemarau. Sekian
Jumat, 18 Januari 2013
di waktu 19
"Lama sudah kita tak jumpa, setahunlah berlalu"
Ada hal yang gak penting diurai, tetapi penting banget may untuk diceritakan. 19. Ya.Tepat hari ini may. Waktu dimana batas gua mengakhiri untuk bermain-main ria dalam urusan percintaan. Tepat setahun lalu gua mencoba tak mengikuti begitu saja aliran sungai. Hari itu gua mengalir dengan konsep. Yang gua pikir akan berdiri kokoh dan lama karena kita mengawalinya dengan pondasi yang kuat.
Sadar atau gak sadar gue begitu cepat nerima dia begitu ajah. Hmm.. begitu may kalo sarjay udah dibaikin dikit pasti dibales dengan seribu kebaikan. Gampang percaya, gampang banget luluhnya, gampang semuanya may. Malam ini gua gak bisa tidur. Setahun lalu yang buat hidup gua benar-benar hidup. Apa yang belum pernah gua coba gua coba sama dia. Rindu banget may.
Walaupun kini manusia itu entah berada dimana, mungkin jiwa nya yang baik itu udah diangkat sama Tuhan ke langit, dan sekarang yang tersisa cuma keegoisannya ajah, tetapi gua cukup senang bisa dikasih ingatan yang gak pernah bisa dilunturkan. Walaupun seolah gua terkesan mengemis cinta tapi percaya may gua gak akan pernah ganggu dia dan hidupnya yang sekarang. Karena biar ajah dia bahagia may, bukankah ngeliat orang yang kita sayangi bahagia itu juga wujud dari kebahagiaan may?
Kadang emang bener may, gua perlu kaca besar untuk intropeksi diri. Siapa gua bisa ngerebut hati dia dengan masalalu nya yang 2,5 tahun itu. Gua cuma gadis biasa may, bukan dari golongan bangsawan dan juga tak rupawan. Sedangkan wanita itu, sangat cantik may, gue gak ada apa-apanya sama sekali. Pantaslah may, kalo keluarganya sampai hari ini masih berharap agar dia bersama wanita itu.
Entahlah may, udah berapa kali gua coba ngelupain momen sama dia, tapi tetep gak bisa. Kalau bisa may gue pengen operasi amnesia. Haha.. Cerita gua tragis yah may, kaya cerita di Ftv. Gak maksud mengeluh may, gak maksud bicara sendiri kaya dunia sophie amundsend tetapi gua juga selalu bingung mau cerita ke siapa. Kan lo tau sendiri gue gak pernah dipercaya kalo cerita sedih, saking humorisnya kali gua.
Kadang gue mau marah may, tapi gak bisa, karena buat apa membongkar marah, menanam benci, buang waktu kan may, tapi kalo gak bisa benci kapan juga gue bisa move on nya. Gue salah apa yah may, wanita itu cantik karena pemberian dari Tuhan, nah gue juga makhluk ciptaan Dia. Gak ada kok manusia yang mau berpenampilan jelek dan terlahir jelek. Salahkan Tuhan kenapa bisa ciptain gua bgini, tetapi gua selalu menunduk menahan tangis .
May, 19 angka gua dan dia bisa tolong berdoa sama Tuhan lo, agar gua dikasih mimpi malam ini sama dia. Maaf ngerepotin may. Bye ({})
Kamis, 17 Januari 2013
Sedang Marah
Aliran sudah tak berirama
Sejak gedung megah menjulang
Sejak pohon tumbang di pusara
Itu Air sedang marah
Jangan dekat nanti terikat
aturan tak berlaku
Mengundang citra kota banjir
Tangan tangan berbalik menjadi kepalan
Saat hujan memekik ibukota
Salahkan air sebelah
Atau pintu kembali
dibuka
Kuping kebal akan petuah
Itu Air sedang marah
Tempatnya diusik bapak seberang
Coba bercermin di belakang
Mungkin kau temukan alasan
Itu Air sedang marah
Tempatnya manusia sekarang
Jakarta, 18 Januari
2013
Sari Wijaya
Rabu, 02 Januari 2013
Mari Meludah
Bau anyir
Simpan saja buat sang tua
Dengan rupa buruk
Kibarkan peringai dini hari
Mirip tapir
Mulut menjorok ke depan
Koreng sekujur tubuh
Masih saja mengepal tangan
Lempar kotoran
Lempar citra ke umat-umat
Lempar cinta ke wanita-wanita
Lempar luka ke setiap hati
Kaki goyang
Tak kuat lagi menopang badan
Tapi tetap tegakkan dagu
Seraya kesombongan
Apa butuh dia orang berkaca?
Berikanlah air jangan cermin!
Takut retak jika bayangannya murka
Simpan saja buat sang tua
Dengan rupa buruk
Kibarkan peringai dini hari
Mirip tapir
Mulut menjorok ke depan
Koreng sekujur tubuh
Masih saja mengepal tangan
Lempar kotoran
Lempar citra ke umat-umat
Lempar cinta ke wanita-wanita
Lempar luka ke setiap hati
Kaki goyang
Tak kuat lagi menopang badan
Tapi tetap tegakkan dagu
Seraya kesombongan
Apa butuh dia orang berkaca?
Berikanlah air jangan cermin!
Takut retak jika bayangannya murka
Jakarta, 2013
Senin, 24 Desember 2012
Anak Autis di Kamar ISOLASI
Ada selalu momen dimana aku menjadi anti bersosial. menjadi acuh. menjadi malas. Menekan tombol capture di setiap webcame yang on. Aku tak mau bermain keluar. Di luar banyak debu, di luar banyak orang jahat. Bayanganku di cermin selalu berkata demikian. Apa yang dilakukan itu tak sebanding dengan arsitektur ruangan ini. Persis sekali seperti ruang isolasi.
Kamar mandi yang berada di dalam kamar. Buat apa bersosialisasi keluar kamar? Itu menjadi tidak penting. . Bahkan, jika ingin mandiri aku bisa mencuci sendiri dan menjemur baju-bajuku sendiri di balcon di kamar. Bosan ingin menonton televisi? Di sini pun tersedia, dan beserta sepaket DVD yang berjejer beragam genre. Autis di kamar.
Kadang bingung mau berbuat apa, semua telah dicoba. Bahkan, jika bosan aku sering duduk di balkon sendirian untuk merenung ataupun menulis cerita pendek. Atau yang paling sering dan dilakukan berulang-ulang mengklik lagi capture pada webcam laptop. Itu melulu. Sering-sering didendangkan pula lagu-lagu dengan nada sekeras mungkin untuk menghilangkan kejenuhan, tetapi tetap saja jenuh sering melanda.
Berteman tak harus keluar rumah, aku mulai menyalakan laptop dan modemku di kamar ini. Hanya dengan menekan tombol conect, aku sudah bisa berkomunikasi dengan teman-temanku di dunia maya. Ya, serasa hidup yang tak usah bersusah-susah payah. Namun, ada kesendirian yang tak terjamah yaitu struktur pikiranku. Aku kesepian. Sekian dan terimakasih
Sabtu, 15 Desember 2012
Aku ingin Mandi
Diam duduk termangu di
sebuah gedung tua tetapi kini
sudah mengalami perombakan ulang. Lantai 3 g304 menjadi tujuan akhir mahasiswa
tingkat ke tiga jurusan sejarah. Terlambat 20 menit sudah jelas-jelas membuat
dosen geram dengan kebiasaan yang dilakukan secara berulang. Mungkin juga bosan
dengan kebiasaan yang melulu tak pernah on time. Sarjay begitulah nama
panggilanku.
Dari semester satu memang selalu bermasalah dengan ketepatan
waktu. Kadang aku bisa menjadi anak terajin tingkat dewa, atau kadang juga
malas bagai kambing kala hujan. Namun, jika berhasil dipersentasekan malasku
mungkin lebih tinggi angkanya. Malas adalah hak. Itu pernyataan yang patut
untuk ditertawakan. Suatu ketika aku pernah bangun terlambat saat SMA. Aku yang
bangun jam 6 pagi mulai bergegas mandi terburu-buru. Aku lupa hari itu perdana
Ulangan Akhir Sekolah. Sepatu wariorku ku ikat mati karena terburu-buru,
sedikit merapikan kerudung yang juga miring dan juga tak kunjung rapi. Memang,
akulah si jilbab aneh yang selalu saja membuat keonaran.
Hari itu aku tak mandi, hanya sedikit menggosok gigi dan
cuci muka sedikit. Semua berantakan.
Namun, untunglah aku masih saja bisa diampuni dan diberikan ijin untuk masuk.
Sekolahku setiap UAS pasti mengacak urut tempat duduk dan biasanya digabung
dengan kakak kelas. Ini hal yang paling menyebalkan buatku, karena sudah
pastilah ini bisa jadi boomerang buatku dipermalukan bersama teman sekelas dan
juga kakak kelas.
Ku percepat langkahku untuk satu tujuan yaitu nomer urut
bangkuku. Setelah tepat berada di depan kelas XII IPA 2 aku mengetuk pintu.
Syukurlah pengawas ujiannya Bu Sri guru sejarah yang tidak berperawakan seram.
Bu Sri seumuran ibuku, umurnya mungkin kepala 4, tapi masih kekar dan berisi.
“Aduh terlambat, cepet mba cari bangku,” seru Bu Sri.
Aku mulai mencari dimana tempat dudukku, Tiba-tiba ada
pancaran dari kerumunan anak-anak ini, Ya, seorang kakak kelas yang menjadi
favorite seluruh sekolah dan juga tampan duduk denganku. Aku mendapat bangku
yang juga tepat bersebelahan dengannya. Entah aku harus senang atau memang
minder lantaran pagi ini tak mandi. Sialnya lagi, aku hari ini sangat
berantakan dan lupa memakai deodorant serta parfume. Semua temen sekelasku
senyum-senyum iri melihat hari ini aku duduk dengan kakak kelasku ini. Namanya
sangat berkarisma seperti wajah dan kepintarannya, Digjaya Utama. Dia kakak
dari teman sepermainanku Cendikia Dewi. Dia sering disebut Pak Haji dengan
teman-temannya karena dia sudah pernah pergi haji.
“Permisi kak, saya duduk di sini,” kataku lembut dengan
cengangas cengengesan.
Kemudian dia membalas senyumku dengan lembut. Arghh..
rasanya ingin terbang dan melayang-layang di angkasa mendapatkan senyumnya.
Dari kedua lesung pipinya yang juga mengiringi senyuman manisnya.
Salah satu teman wanita sekelasku yang juga kagum berat
dengannya, menyinyir iri melihatku, kemudian aku mulai menoleh diam-diam kearah
temanku dan memberikan senyum meledeknya dengan sedikit melet.
“Ish..” ketus Susan sinis.
Susan memang teman sekelasku yang serba ribet. Memusingkan.
Geliatnya memang sangat girly, Nampak pada benda-benda miliknya yang serba
pink. Tak pernah jauh dari kaca berwarna pink, lipgloss pink, dan juga alat
kosmetik lainnya yang bernuansa pink. Seringkali pandangannya tidak fokus jika
melihat laki-laki tampan yang lewat.
Sialnya aku meledek Susan disaat hari ini aku membutuhkan
bantuannya. “Woy, susan.. minta minyak wangi dong,” seruku lirih agar
tak terdengar Kak Diga.
Dengan ketus susan menjawab,”ogah”.
Ah sial. Susan menyebalkan. Aku benar-benar harus menjauh
dari Kak Diga, terlalu dekat bisa membuatnya ilfil nanti ketika mencium aroma
tubuhku yang tidak mandi pagi ini. Wah, hari ini terasa begitu lama, aku ingin
cepat-cepat pulang. Hari ini aku bulatkan tekad untuk langsung pulang, tidak
kumpul OSIS ataupun teman-teman untuk bermain dahulu. Aku ingin mandi. Titik
Hari ini ulangan Agama, seharusnya aku bisa menanyakan
soal-soal sulit ini ke Kak Diga, tapi tidak mungkin. Aku belum mandi, aku takut
dia tak nyaman denganku. Sial, sial, sial. Tuhan, ayolah percepat waktu, aku
ingin segera pulang. Aku ingin mandi.
Susan menatapku dengan senyum olok. Aku tak bisa berpikir
dengan kondisi seperti ini. Aku ingin pulang. Aku ingin mandi. Ya setidaknya
hanya itu yang bisa diucapkanku hari ini. Aku ingin mandi.
Hari ini menyebalkan,
lalu lalang pula kakak kelas yang mencoba bertanya ke kak Diga dari arah
kiriku, sehingga memungkinkan Kak Diga mendekat ke arahku. Aku tak mungkin
menjauh dan merasa sok jijik karena sebenarnya bukan dia yang menjijikan tapi
diriku ini. Yang belum mandi. Pfftt..
Pesona Kak Diga meluluhlantahkan imajinasiku untuk menjawab
soal-soal agama yang dipenuhi dengan huruf melingkar-lingkar ini. Tuhan Allah
ijinkanku pulang. Aku ingin mandi. Sesekali kak Diga menoleh ke arahku dan
senyum serta menanyakan. “Ada yang susah nggak?” dengan ramah.
Aku tak sanggup menjawab pertanyaannya bahkan senyumnya yang
100% manis, aku hanya mampu menggelengkan kepala, karena takut aroma gigiku
yang hanya ku sikat dengan kilat tadi pagi mengganggu penciuman Kak Diga. Setelah
satu jam berlalu, Ujian hari ini pun selesai juga akhirnya. Aku bergegas dan
menggemblok tas ranselku untuk berlari ke luar kelas dan pulang.
“Woy, sarjay mau kemana lo?” teriak salah seorang anak OSIS
yang tak jelas wajahnya kulihat.
“Pulang” jawabku keras sambil berlari.
Namun, aku tertabrak oleh teman-teman OSIS yang lain, kali
ini sangat dekat. “Eh, mau kemana?” tanya Sella.
“Mau pulang sel, gua beum mandi,” jawabku cepat.
Sela yang tertawa dan meneriakanku,” Ih,, dasar jorok lu”.
***
(bersambung)
Rabu, 12 Desember 2012
Cekrak cekrik
Haha sok banget cantik emang yang punya blog ini pemirsah. Abis iseng-iseng brhadiah pengen ngeshare ajah hasil foto jepretan si Ranthy sipirili, yang lumayanlah gue bilang keren. Hahaha. yang pasti karena modelnya keren. Uhuy :p cekidot :)
yeah. thanks to ranthy :)
yeah. thanks to ranthy :)
Rabu, 31 Oktober 2012
Dosa: Di balik kelambu biru
Bagaimana itu bisa disebut cinta, jika kau aktif meminta
Bagaimana itu bisa disebut cinta, jika kau selalu lupa
Bagaimana itu bisa disebut cinta, jika kau bersembunyi di
balik citra
Bagaimana itu bisa disebut cinta, jika kau peroleh dengan
memaksa
Bagaimana itu bisa disebut cinta, jika kini aku yang
menderita
Bagaimana itu bisa disebut cinta, jika kini kita memegang
dosa
Sari Wijaya
Rabu, 24 Oktober 2012
Kangen
Segala sesuatu
memiliki makna_Barthez
Lucu sekali hari ini, aku mencoba
mengutak atik laptopku yang sedari tadi aku nyalakan untuk mengerjakan sebuah
tugas deadline dari Transformasi. Aku sangat-sangat tak karuan membuka setiap
folder, yang masing-masing aku berikan nama aneh-aneh sebagai penanda. Barthez
dalam bukunya “emporium of sign” pernah mengemukakan bahwa manusia itu dikuasai
oleh tanda-tanda, maka seperti aku, aku menandai setiap folder penting di
laptopku dengan caraku sendiri. Kadang hanya ada angka saja bahkan kata-kata
cenderung gila.
Aku buka satu persatu folder itu,
seingatku aku meletakkan semuanya di satu folder itu. Oh, my Lord tolonglah
aku, ijinkan aku menemukannya. Aku tak ingin apa, aku tak ingin nyata, tetapi
hanya mala mini aku inginkan menemukan folder itu. Laptopku memang baru saja di instal ulang perihal kecerobohanku karena mendownload sembarang aplikasi yang
isinya semua menggunakan bahasa inggris yang tak ku mengerti, aku hanya menekan
“Yes” dari setiap kata yang berurai panjang tak ku mengerti. Alhasil, laptopku
ini tak bisa menyala dan harus di instal ulang.
Semenjak itu, aku lupa menaruh
folder kesayanganku itu dimana. Memang sudah berbulan-bulan aku tak ingin membukanya, Aku tak ingin membukanya.
Tak sama sekali. Semua bercampur dengan ketakutan-ketakutanku. Namnun, entah
mengapa malam ini aku ingin sekali menemukannya. Aku ingin sekali menengoknya
walau sebentar saja. Aku ingin kepo.
Setelah beberapa kali
berputar-putar di Local Disk C dan D, tak kutemukan juga satu pun pertanda
folder tersebut. Ah, sial. Where are you my folder? Mana mungkin satu folder
itu bisa hilang. Aku sangat merindukanmu. Aku ingin kau temaniku malam ini.
Sekadar menghiburku saat insomniaku menjelang.
Ketika larut memang aku selalu menjamu
diriku sendiri dengan berbagai macam kegiatan yang menyebabkan aku tak memiliki
rasa kantuk sedikitpun. Aku ingin ditemani oleh folderku itu. Aku ingin dia
kembali. Baiklah aku mulai flash back dan mengingat kembali, mengorek-orek
ulang ingatanku, siapa tau saja aku mengingatnya.
Wah, sangat sialan. Bangsat! Aku
pecundang, aku pengecut. Aku baru ingat, aku pernah menyuruh temanku untuk
menghapusnya kala itu. Bak, air mata yang memang takkan mampu mengalir lagi
perihal tingkat kadaluarsanya sudah lewat, airmataku tak mampu keluar, Cuma
sesak yang menerpa di dadaku. Aku si pecundang itu, aku yang tak berani
sedikitpun mencolek folder itu, menyuruh temanku untuk menghapusnya saat itu.
Folder itu mungkin sudah menjadi
data abstrak yang pernah ada tetapi kini hilang entah dimana. Mungkin, dia
telah masuk di dunia kapur Rudi Tabuti, atau mungkin di Rycle Bin. Ah, benar
sekali aku buru-buru membuka rycle bin mungkin saja masih tertera di sana.
Shit!! Tak ada pula. Semua terhapus. Ulahku. Ini semua salahku. Aku kini hanya
menunduk dan mulai memutar otak untuk mengingat semua isi folder itu. Namun,
tetap saja aku tak ingin menangis lagi. Lagi-lagi aku tak ingin menangis. Aku
hanya ingin menengoknya walau sebentar.
My Lord, andai saja aku bukan si
pengecut itu yang selalu saja tampil reaksioner dalam mengatasi masalah itu,
mungkin aku takkan menghapusnya. Kini, aku menyesal. Sangat hancur hatiku. Aku
bersusah payah mengumpulkan setiap part-part hidupku dalam folder itu semua,
hanya untuk mengabadikan sebagian memori yang pernah aku lakukan.
Foto-foto itu entah dimana dia.
Video itu. Bahkan semua tentangnya hilang terhapus. Apa ini pertanda aku
benar-benar harus menghapusnya dalam hidupku? Ah, sungguh gamblang yang aku
tulis malam ini. Tak biasanya aku menulis perihal hati dengan sangat gamblang dan
mendayu. Singkat kata, aku merindukanmu setiap waktu setiap denyut setiap nyawa
bhakan yang lebih dekat, denyut aliran darahku mungkin juga merindukanmu. Aku
ingin memelukmu malam ini. Maafkan aku L
***
Langganan:
Postingan (Atom)






