Senin, 15 Oktober 2012

Selayang Pandang II

Karena rapuh bukan untuk cibiran, karena kuat bukanlah kebanggaan dan pameran. Manusiawi penuh dengan kedinamisan.
lantas, apa fungsi pikiran kita yang selalu ada untuk mengurai kausalitas peristiwa? karena berdiam itu cuma kepalsuan.

karena sejarah itu merekam, maka jangan salahkan aku mengingatnya. Melupa itu cara, tapi menjadi lupa itu proses.

kesalahan itu diperbaiki bukan berdiam mati. bukan mengumpat. karena dosa sejarah harus diungkap bukan selalu kau diskusikan.

dan hidup bukan menebak laiknya lotre, belajar sejarah untuk memprediksi, bukan melakukan ulang kesalahan yang picisan

kenapa tidak kita telanjangi dulu pikiran kita, agar kita tak selalu menghakimi satu sudut.

Selayang Pandang

Dia yang kita sayangi yang paling sanggup melukai

Antika

Gadis berdarah Palembang, membuatnya sangat jong sumatera, cara tingkah lakunya pun jauh dari kejawaan. Bobotnya sangat dinamis, kadang kurus dan kadang gendut. Namun, kali ini dia sedang berbobot gendut. Kebiasaannya seperti tikus dapur keluar di malam hari untuk membangunkan pembantunya menghidangkan makanan laiknya seorang putri dan itu selalu dikerjakan setiap malam.

Sahabatku tipikal ini sangat jarang ditemui dimanapun suaka margasatwa. Kehidupannya benar-benar laiknya seorang putri raja. Untuk anak kuliahan sepertiku sangat jauh berbeda semuanya. Dari pola hidup yang serba boros dan barang-barang yang bersifat glamour. Kesukaannya dan kefanatikannya tehadap Syahrini, membuatnya dipanggil Syahrini wanna be oleh teman-teman yang lain. Atau sering juga dipanggil Princess. Bayangkan saja dia mampu mengeluarkan satu juta per hari nya. Huh, untunglah dia anak orang berada. 

Namun, dia sangat jauh berbeda dengan anak "tajir" lainnya. Persahabatan yang aku jalin dengannya dan teman satu genk ku Comel namanya, jauh dari kehidupan anak gaul jakarta pada umumnya. Kami masih tahu norma. Antika orang berada, tetapi dia tidak seperti anak liar jakarta yang kerjanya hura-hura di klub malam, mabuk-mabukkan apalagi merokok. Dia sebenarnya hanyalah anak polos yang belajar glamour dengan otodidak. 

Di genk ini, dialah yang paling terlihat mewah saat hang out ke mall. Seharusnya dia bisa berteman pada wanita-wanita di luar sana dengan gaya sama sepertinya, atau kita sebut wanita sosialita. Akantetapi, dia masih bisa dan sampai saat ini berteman dengan karakter teman yang berbeda-beda. Seperti diriku misalnya, sangat jauh dari kesan mewah. Aku hanya menyukai hal-hal simple dan fungsional. Mungkin akulah wanita tomboy yang berada di genk ini. Antika sangat dermawan. Bagaimana bisa orang kaya itu pelit? Kebiasaannya yang terkadang menyepelekan uang-uang kecil, dianggap "jleb" oleh anak-anak lain. Karena bagi kami anak kuliahan uang recehan itu sangat berguna dan penting, sedangkan antik dihamburkan di setiap sudut kamarnya. Mungkin, dialah salah satu donatur utama dan tetap dalam berlangsungnya organisasi Comel ini. 

Koleksi-koleksi tas bermerk luar, dompet, dan heelsnya berjejeran di kamarnya. Dan, dia selalu bingung jika ditanya, untuk apa ini semua? Dia pasti langsung senyum-senyum dan menjawab "Eh, gak tau". Menarik sekali kan wanita ini. Kebiasaannya pun jauh dari kesan elegan anak gaul jakarta pada umumnya. Dia tidak suka konser mahal jazz ataupun aliran anak muda jaman sekarang seperti katy perry. Dia punya karakternya sendiri di bidang dangdut dan bollywood. Agak norak memang, tapi itulah karakternya. 

Dia memang agak arogan, tempramental, tetapi percayalah bahwa hatinya sebenarnya lebih lembut ketimbang wanita yang bertopeng lembut. Wanita ini orang pertama yang berada di samping saya ketika saya dilanda galau. Dengan amarahnya terlihat lucu memaki, padahal entah bagaimana saya mengartikan itu semua sebagai rasa peduli. Begitulah yang dia lakukan ke teman lain juga. Memang agak sarkas perkataan yang sering dia ungkapkan, tapi percayalah itu hanya gurauan agar pergaulan kita tidak bersifat monoton dan normatif. Kadang memang sedikit egois, tetapi sampai saat ini saya memakluminya sebagai sifat manusia yang bersifat dinamis. 

Saat saya sedang terbuang, dialah orang pertama yang menghujat laki-laki itu. Walaupun sebenarnya, saya tahu dia tak akan melakukan itu semua jika bukan karena saya yang dilukainya. Padahal sampai saat ini saya pun tidak merasa dilukai, saya pun sedang menyelidiki sebenarnya apa yang terjadi dengan laki-laki ini, maka saya tak mau menghujatnya sebelum saya yakin benar dia bersalah. Yang Antika lakukan memang sangat mulia, membela temannya saat terluka. Namun, ada yang lebih membuat saya luka ketimbang itu semua. Pertemanan ini saya perkenalkan olehnya, jika saya terluka biarlah hanya saya yang terluka, jangan dia dan kalian. Biarlah saya yang tak berhubungan, jangan kalian. Saya mungkin terlalu bodoh. Namun, kawan percayalah melupa itu cara tetapi menjadi lupa merupakan proses. Kalian benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan rahasia itu masih tertutup hingga kini. Karena saya tahu kotak pandora ini milik saya. Dan selamanya akan tertutup. 

" Karena dendam tak hanya melukai korban tetapi orang yang berada di sekitarnya" 


Tanah Papua: Saya bukan anda

Dan untuk mega-mega kembalilah mendung
Ambillah warna biru itu
Luapkan hujan
Musik berganti lirih

Saya luka
Biasa saja
Usah kawatir
Ini luka berat sudah lama

tak guna obat
bukan butuh tenaga
bukan butuh istirahat
Saya mulai saya gapai hanya bayang merdeka
Di tanah papua

Ambil emas itu
Dan pergilah
Saya  tak jua butuh
pergilah tanpa peluru
biar anak cucu tenang di surga

Mimpi

Gue salah satu perempuan  yang pernah bermimpi tingkat dewa, eh salah dewi. Pengen banget jadi penulis novel yang terkenal banget, tinggal di luar negeri dengan anjing air bud yang lumayan besar dan bulu tebal, serta apartemen pribadi dan mobil pribadi tentunya.
 Kaya gini nih gayanya..


Yah kurang lebih seperti ini lah. rambut bondol dengan baju girly dan simple era tahun 60-an itu udah cukup membuat gue bahagia. haha.. Flat shoes yang sampai saat ini gue takuti memakainya karena betis yang besar ini. Muka bulat, sehingga gak mungkin di bondol rambutnya. Kalo tas macam itu gue pernah punya, tapi ya gitu gue ini sangat tidak resik merawat barang, belum sebulan sudah jebol karena memang yah bawaan gue tiap hari banyak. Buku lah segambreng, laptop, dompet, chargeran, kecuali make up jangan harap ada di tas, ya paling-paling pencuci muka dan minyak wangi itu sudah pasti ada. Belum lagi daleman yang sudah harus ada, karena gimana yah, gue paling sering nginep dan tidur di sembarang tempat jadi daleman itu wajib ada. Yah, paling tidak pentiliner lah. Kalo baju mah woles gak ganti juga :p


Perhatiin deh gaya wanita di atas. Simple tapi tetep eye catching kan. Doi juga gak tetep keliatan maskulin loh. Yah, salah satu impian gue juga adalah menjadi wanita yang girly tapi tetep maskulin. Wanita yang cuma girly ajah itu gak keren, terlihat sangat "enje" banget. Menurut gue, yah sedikit maskulin itu bisa memberikan kesan mandiri dan kuat pada wanita, tetapi inget tetep cantik dan juga cerdas. Karena menurut gue cewek bego itu cuma bisa membuat ilfeel. Hehe :p


Ini wanita, rambutnya liat deh, rambut gue emang keriting tapi bukan kribo yah, tolong digaris bawahi. Rrr.. bikin kesel kalo denger kata-kata itu. Gue mantan dancer, jadi gak mungkin juga lah gue gak bisa mengibas rambut saat ngedance, gak ada kesan sensualnya kalo gak bisa ngibas rambutnya. Rambut gue emang belom panjang, karena pernah botak pas gue sakit, rontok semua rambutnya sampai dua konde. Tapi, gue tekanin lagi sekarang rambut gue udah numbuh, dan tinggal nunggu panjang. Dan, kalo gue jadi keren, jangan nangis yah yang suka ngeremehin gue. Sekarang tinggal nunggu panjang. Siap-siap yah :)




Eng ing eng, yah beginilah wajah gue, sok-sokan seperti hitler dengan nuansa kamera lomo dan selalu black holic, itu juga yang membuat gue menyukai hitam karena punya karakter dan ketegasan. Masih pendek banget kan rambut saya, belum terlalu panjang, tetapi suatu saat gue yakin akan menjadi panjang. Setelah itu gue akan ikut casting syuting film bergenre horor dengan menjadi aktris sebagai kuntilanak. Hihihi :)
#sekian dan terimakasih

Datar

Sesungguhnya bahagia itu cuma kelabu. Aku berjalan, bekerja tapi ketahuilah bahagia itu tak ku temukan hingga kini. Sudah terlalu jauh perjalananku. Aku kini cuma menunggu Tuhan menjemputku. Ketika fisik mati bukan berarti pikiran mati. Tuhan, ambillah aku walau dengan dosa, tak ada pahala yang kuraih. Mungkin surga pun tak bisa mendekat. Namun, tak apalah biar hanya Kau yang mampu menemaniku, biar hanya Kau yang setia di sampingku.

Kamis, 30 Agustus 2012

Pendidikan yang Dikebiri

“Pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri”(Paulo Freire)

Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of Oppressed menjelaskan bahwa pendidikan menjadi jalur permanen pembebasan. Pembebasan tersebut haruslah berada pada tataran kesadaran dari penindasan dan melalui praxis mereka mengubah keadaan mereka. Kemudian proses selanjutnya adalah ketika aksi pembebasan menjadi budaya.


Indonesia yang disebutkan sebagai “Negara demokrasi” nampaknya tidak dapat memungkiri ketidakdemokrasiannya selama ini dalam dunia pendidikan. UU No.4 tahun 1963 tentang pelarangan buku telah membuktikan bahwa dalam konteks negara demokrasi, Indonesia belum mampu menjadi negara yang demokrasi seutuhnya. Pelarangan-pelarangan buku yang marak terjadi, menunjukan ketidakbebasannya mencapai sebuah pendidikan. 


Buku sebagai jendela dunia hanyalah sebuah wacana teoritis yang mengkebiri dunia pendidikan. Kasus ini membuat dunia pendidikan menghasilkan manusia-manusia yang tak berdaya kritis terhadap suatu penindasan. Konsep pendidikan seperti menjinakkan manusia bukan memanusiakan manusia, mulai terbangun. 


Beberapa buku seperti Lekra Tidak Membakar Buku, Dalih Pembunuhan Massal dan buku-buku yang bertentangan dengan pemerintahan, dilarang untuk terbit. Kasus ini seperti terjadi kembali di zaman yang disebut-sebut “reformasi”. Reformasi yang selalu disuarakan telah menurunkan rezim otoriter yaitu Orba seolah dihadirkan kembali. 


Pada Orde Baru pelarangan-pelarangan buku menyeruak sangat pesat. Segala buku yang tidak sesuai dengan kebijakan-kebijakan pemerintah dilarang untuk dipublikasikan. Pemikir-pemikir kritis dikungkung oleh sebuah kata saja, yaitu rezim. Lantas apa bedanya dengan di zaman reformasi? 


Reformasi yang dinilai telah berhasil menurunkan keotoriteran sebuah rezim, menjadi titik perjuangan tak terlupakan dalam jejak sejarah Indonesia. Seperti dejavu kondisi Indonesia kini. Perbedaanya, pada era reformasi semua disusun secara halus, dikemas secara unik, dan terlihat anggun dari luar. Kata “reformasi” telah meninabobokan bangsa ini, sehingga kekritisan tidak muncul kembali, sepeninggal common enemy lengser. Buku sebagai gudang ilmu bukan lagi menjadi alat berpikir kritis untuk memecahkan teka-teki keadilan ataupun penindasan melainkan alat penghegemonian kekuasaan untuk oknum-oknum yang mempunyai kepentingan.

Telikungan Kapitalisme Global Sejarah Kebangsaan Indonesia

Judul : Telikungan Kapitalisme Global Sejarah Kebangsaan Indonesia
Karangan : Hasyim Wahid dkk
Penerbit : Lkis Yogyakarta 1999








Setiap Upaya memberikan diagnosa dan terapi atas persoalan yang terjadi di Indonesia tanpa melihat keterkaitan dengan konstelasi global niscaya akan menemui kegagalan.

Wacana Asing terhadap sejarah kebangsaan Indonesia selalu memiliki peranan dari setiap tindak tanduk permasalahan di negeri ini. Bangsa Indonesia sering dijejali dan terpukau terhadap wacana luar yang kadang membuat Indonesia masuk dalam lingkaran hegemoni. Pelbagai wacana masuk, dari aspek sosial, politik, ekonomi, ideologi, kebudayaan dan seterusnya masuk dan menggerus Indonesia sampai masuk ke dalam cengkeraman imperialisme global yang hegemonik serta penuh dengan rekayasa.

Buku ini membagi tiga fase sejarah dengan berbagai varian di dalamnya dan menganalisis konstelasi global secara sederhana sebagai berikut; periode pra kemerdekaan yang dibatasi dengan semangat nasionalisme, masa kemerdekaan dibawah pengaruh perang dingin, dan masa Orde Baru yang berujung reformasi.
Pada fase pertama, konstelasi wacana asing masuk perlahan dengan semangat nasionalisme (Ernest Renant) pada saat pra kemerdekaan. Lahirnya kaum terpelajar dan organisasi-organisasi di Indonesia pra kemerdekaan pun tidak relepas dari adanya politik etis Belanda. Dengan adanya politik tersebut anak-anak priyayi dapat di sekolahkan dan kemudian menjadi kaum terpelajar.

Selain berkembang jiwa nasionalisme di Indonesia, peristiwa revolusi Bolsevik oleh Lenin mengagas pemikiran Komunis di Indonesia yang nantinya pun sempat berbekas di sejarah kebangsaan Indonesia.
Era Konsolidasi Kapitalisme di Indonesia pada fase ini pun terjadi setelah perang dunia I, yang mengakibatkan krisis moneter negara-negara yang melakukan perang. Kemudian dengan strategi strukturalisme fungsional dari Talcot Parsons. Selama masa ini bangsa Indonesia juga melakukan konsolidasi kebangsaan Indonesia, namun belum dapat memproklamirkan karena hegemoni imperialis di Indonesia masih begitu kuat.
 
Kemudian fase berikutnya terjadi di awal-awal kemerdekaan. Menilik peristiwa yang terjadi di luar pada masa ini yaitu ketika pasca perang dunia II, kemenangan Sekutu atas Jepang melahirkan Indonesia menjadi negara yang merdeka, ketika golongan tua dan muda memanfaatkan peristiwa tersebut sebagai celah perebutan kekuasaan.

Peristiwa yang terjadi pada masa pasca kemerdekaan adalah ketika sekutu menyerang Surabaya dan tewasnya Jenderal Mallaby di Surabaya dan disambut dengan semangat perlawanan oleh rakyat Indonesia. Pola ini kemudian terulang kembali, di zaman sekarang. Jika upaya imperialisme masuk di Indonesia dengan fisik, maka sekarang masuk dengan menguasai aset industri dan infiltrasi modal asing.
Untuk menanamkan pengaruh kapitalisnya asing membentuk World Bank, IBRD, IMF dan GATT setelah pertemuan Bretton Woods tahun 1944. Tidak hanya imperialis kapitalis yang tidak mau kalah, imperialis komunis pun mendirikan COMECON.

Organisasi-organisasi tersebut yang kemudian nanti akan menghegemoni perjalanan panjang bangsa ini. Tahun 1948 Trauman Doktrin muncul dengan ideologi developmentalismenya yang akan membuat pemikiran modernisasi oleh negara-negra baru jajahan. Sebegitu besarnya pengaruh asing di Indonesia melahirkan strategi halus oleh presiden pertama Indonesia Soekarno. Beliau memutuskan untuk mempertahankan PKI tetap ada di Indonesia tanpa melihat pemberontakan yang pernah terjadi oleh PKI di madiun.

Fase selanjutnya adalah pada saat Orde Baru. Kapitalis masuk dengan beberapa strategi. Pertama dia membuat agen rahasia CIA untuk menghilangkan paham-paham komunis. Dengan politiknya peristiwa G 30 S yang terjadi di Indonesia mengantarkan Orde Baru untuk masuk melengserkan Orde Lama.
Kemerdekaan yang selalu digembor-gemborkan oleh kaum reformis sebagai usaha bangsa Indonesia patutnya digali lebi jauh. Pasalnya ada tangan-tangan gahib yang sebenarnya muncul. Tangan-tangan Gaib itu disebut kapitalisme.

Kemudian pemerintahan Orde Baru menerapkan ideologi developmentalisme dengan menerima bantuan IMF, World Bank, dan WTO. Tidak hanya itu saja, pembentukan institusi-institusi pun dibentuk dalam konsep developmentalisme. Dengan cara ini, kapitalis berhasil memperkokoh pengaruhnya di Indonesia dengan upaya ekonomi. Telikungan Kapiitalis pun muncul kembali untuk membuang pengaruh komunis saat peristiwa Malari 1974 tentang penolakan produk Jepang di Indonesia.

Seperti tidak pernah absen dari Indonesia kala itu, kapitalis kemudian menelikung kembali. Pasca perang dingin, dan runtuhnya negara komunis, kapitalis tidak membutuhkan buffer (tameng) lagi untuk menghadapi komunisme. Sekarang, kapitalis hanya memiliki tujuan penguasaan bisnis.

Tekanan konsep liberalisme yang diterapkan kapitalis pun muncul. Memaksakan Indonesia untuk berhutang. Disinilah akhirnya detik-detik latarbelakang mundurnya Orde Baru yang selalu menjadi euphoria bagi kaum reformis bahwa semata-mata reformasi terjadi akibat adanya perjuangan rakyat Indonesia tanpa melihat pengaruh wacana asing yang bermain.

Rabu, 29 Agustus 2012

Rumah Sendiri



" Ketika terdampar kemudian berada di rumah sendiri namun diacuhkan pula di rumah sendiri, tak terdeteksi di rumah sendiri, kemudian pergi dari rumah sendiri, lalu diusir dari rumah sendiri, kemudian aku ternyata hanya mimpi memiliki rumah sendiri"

I love you anyway


big park is amazing place :) 

angin membawa kami ke tempat ini 


ada cinta dari setiap perjuangan dan pergerakan :)
penelitian lapangan ke wilayah jogja juga mengiringi perjalanan kami :)

ada perut yang lapar dan harus diisi :)

 tak melulu serius, kita juga butuh hiburan berupa seni :) 

bercinta dan belajar itulah kami :)

I've got a boyfriend now
He always talks so loud
Even in a crowded house
He always shows what he got

I share my dreams and all my stories
I don't think I need my diary
If you're teasing me, don't you worry
I will keep you in my memories

Jumat, 17 Agustus 2012

Senja Elok di Menteng


Kegalauan tak selalu mencipta airmata, bahwa hari ini penemu itu berhasil menemukan sesungging senyuman

Lengang terasa, tak seperti malam hari, ternyata tempat ini terlihat sepi di siang hari. Sungguh aneh, biasanya aku bersepeda malam hari, menikmati setiap keramaian di tempat ini, tetapi hari ini aku dan sang penemu itu bercengkeramah di siang hari. Lambung kami memang satu tipe, selalu saja tepat waktu mengetuk-ngetuk tak mau terlambat di siang ini. Kami singgahi warung tenda di kawasan ini, dahulu konon menurut sejarah yang tertulis kawasan ini dirancang oleh tim arsitek yang dipimpin oleh P.A.J Mooijen seorang arsitek Belanda yang juga merupakan anggota tim pengembang yang dibentuk pemerintah kota Batavia. Maka, jangan heran jika arsitekurnya pun sampai hari ini mirip gaya-gaya Eropa. 

            Kami menyusuri perjalanan ini dan berhenti sejenak di sebuah warung tenda bertuliskan “Tersedia Soto ayam, soto babat, dan Indomie rebus”. Spanduknya berwarna kuning, yang sampai hari ini aku mengartikannya sebagai warna yang cerah, walaupun aku dan penemu memancarkan suasana yang kelabu. Awalnya memang si penemu itu menawarkanku untuk memilih menu apa yang akan kami nikmat. Namun, ternyata aku lebih memilih makanan yang paling instan dan sangat aku sukai “Mie rebus instan” dan penemu itu lebih memilih soto ayam. Bukannya aku tak menyukai soto ayam, tetapi memang kuah santan itu tak pernah mengijinkan masuk ke lambungku yang sudah sedikit rusak. 



            Tak mau berlarut-larut di tempat yang sangat sempit ini, kami segera menuju tempat yang ingin kami tuju. Sebuah taman kota yang terletak di kawasan yang pernah terintegrasi dengan suburban yang memiliki kemiripan model kota taman dari Ebenezer Howard, seorang arsitektur pembaharu asal Inggris.

            Taman menteng, begitu nama tempat ini dikenal. Walaupun memang tak seindah taman gantung di Babilonia, tetapi aku menikmati kesunyian di sini. Kami mulai mencari tempat untuk duduk. Sepi dan damai begitu terlihat di siang ini. Hanya ada belasan muda-mudi yang asik bercengkeramah serta tukang kopi keliling menjajakan dagangannya dengan sepeda. Seperti sudah menjadi kebiasaan, penemu itu membeli sebungkus rokok yang kita nikmati berdua dan secangkir kopi hitam sebagai pelengkapnya. 

            Entah apa tujuan kami di sini, karena aku pikir kami sedang merasakan kelabunya jiwa. Dan aku sebut ini heterotopia, ajang senang-senang dan melepas kepenatan aktivitas yang selalu melingkari kami. Berlarut-larut kami bercengkeramah siang itu, Apa saja kami bicarakan, soal negara yang hari ini tambah semrawut hingga masalah pribadi yang paling detail sekalipun. 

            Tak mampu kusangkali bahwa hari ini aku bercurah kepada penemu yang sama sekali tak ku kenal, bahkan berasal dari negeri mana, aku tak tahu. Semua tercurah begitu saja. Aku nyaman dengannya. Ini bukan saja perihal kenyamanan. Namun, pesona eloknya mengalahkan segala bentuk ketakutan-ketakutanku terhadap bentuk masalalu itu. Sang Penemu memang manusia yang sangat lemah kupikir. Dia bukan seperti orang-orang katakan. Penemu itu keras, angkuh bahkan tak suka dengar apa yang tak sesuai dengan kehendak hatinya. Namun,hari ini asumsi semua orang terhadapnya patah. 

            Bijaksana. Begitu panggilanku terhadapnya. Penemu, mendengarkan semua keluhan, Tak segan-segan ia pun sesekali menawarkanku setengguk minuman hitam itu untuk menemani langkah kita menemukan hal yang tak pernah kita temui.

            Berawal namun tak berakhir. Hanya itu yang bisa kupanjatkan untuk senja elok ini. Senja biasanya menawarkan kisah klasik yang membosankan. Tetapi hari ini, senja mendukungku menjalankan ekspedisi pencarian itu bersama sang penemu. Penemu yang cukup asing tetapi bersahaja di senja ini. 

            Penemu yang bijaksana mendengar, tak cukup mendengar pikirku untuk menjadi penemu, akhirnya penemu itu menasehati, tak cukup sampai menasehati pikirku untuk jadi bijaksana, maka dengan penuh keberanian, dia siap membantuku. Apakah tak merugi pikirku membuang-buang waktu untuk mendengarkan manusia macamku ini yang penuh dengan ketidakjelasan. Namun, senja ini penemu menyatakan sanggup dan bersedia mencari apa yang dicari di diriku ini.

            Penemu itu meminjamkan pundak, materi dan waktunya untukku. Aku berhutang. Ya, pikirku itu, entah kapan aku mampu membayar semua yang telah diberikan hari ini oleh penemu itu. Aku pun tak ragu untuk bersandar di pundaknya, dan sedikit demi sedikit mengeluarkan segala keluhan hidup yang makin lama makin menjeratku dalam ketertekanan. Kami bercerita, saling mendengar, dan bersenda gurau. Hingga rasa galau itu lambat laun pun hilang. Kami tak sadar bahwa rasa itu telah larut dengan proses kenyamanan yang kami dapat di taman ini. 

            Walau senja mulai memberikan kode untuk pulang. Namun, hiruk pikuk kota, lalu lalang para penjual kopi dan yang terpenting adalah angin yang selalu mengiringi perjalanan kami pulang ikut andil dalam penemuan ini. Ya. Sesungging senyuman akhirnya dapat ditemukan oleh sang penemu di diriku. Senyum itu ada karena sang penemu dengan ikhlas mencari dan menemukannya. Wahai sang Penemu, senyum yang telah kau temukan di senja ini,akan terus terbit tanpa tenggelam ketika hari ini,esok, dan selamanya kau akan terus menerus menjaga senyumku dengan berada di sampingku hingga senja kembali esok hari. sw



Prolog


Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu. Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan Cuma memperbanyak ruang tertutup. Munkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku sama. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu. Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu. (Novel Hujan Teduh).


Pertemuan yang sangat singkat di balik perkaraku akhirnya mampu mempertemukan dua rasa kita. Tuhan selalu mempunyai cara untuk mempertemukan dan memisahkan. Tak ada yang sangat mengesankan daripada pertemuan dan perjalanan di tahun ini. Berawal dari kegalauan aku menemukanmu. Setiap tikungan yang kita singgahi memiliki banyak kenangan yang tak mungkin pernah terhapus. Kau sebagai penemu, kau sebagai penjelajah, dan kau sebagai pemenang. Penemu atas rasaku, penjelajah atas segala keseharianku, dan Pemenang atas hatiku. 

Kita pernah bermimpi untuk mampu mencapai apa yang kita tuju, bukan secara individu melainkan secara kolektif. Dengan semangat liberte, egalite dan Frahternait kita membuat visi misi ke depan untuk mencapai sebuah konsep besar. Generasi Santosa dan Wijaya serta kesuksesan sebagai seorang anak manusia dan mahasiswa tentunya. Perjalanan cinta kita adalah seni. Erich Fromme benar bahwa ini bukan sekedar rasa sebagai sifat naluriah kebinatangan seorang manusia, tetapi aku mengakuinya bahwa rasa ini penuh nilai estetika. 

Walaupun kadang diterjang berbagai halangan, baik di pihakmu ataupun di pihakku, tetapi aku dan kamu yakin bahwa bahagia tercipta atas perjuangan kita sendiri, bahkan Spinoza pernah berkata, bahwa Tuhan bukanlah satu-satunya dalang. 

Ini bukan akhir cinta. Aku anggap ini awal atas kesalahan masa lalumu. Masa lalumu yang sampai saat ini menghantuiku. Ketakutanku terhadapnya masih sangat melekat di rongga-rongga terakhir kali kau ucapkan kata maaf untuk kesalahanmu. Aku bukan palung rasa yang bisa menyedot semua rasamu. Aku juga bukan pula jajanan pinggir jalan yang dijual murah dan tidak higienis. Semua rasa dan perilaku yang ku berikan padamu adalah konsep besar yang aku mimpi-mimpikan dengan penuh estetika dan luxurious walaupun caraku sangatlah sederhana. 

Ini hanya selembar kertasku yang kini sudah terisi setengah warna hasil karya cipta kita berdua, dan ini belum selesai. Maka, marilah kita cari kembali pewarnanya bersama dan satu persatu kita goreskan ke kertas ini agar konsep besar gambar kita nampak indah. Jangan pernah sembunyi dari rasa, keluarkan apa yang mampu kamu ekspresikan atasku. Begitu pula aku. Karena cuma di cinta ini kita mampu berdiri merdeka dan menjadi diri sendiri. 

Aku dan kamu bagai hujan dan teduh. Seperti menebak langit abu-abu. sw

Minggu, 10 Juni 2012

Kali pertama: Di atas scorpio




Terasa lebih besar dalam diameter

Tunduk dalam senyum

Menahan rona memerah seketika

Tapi tak mampu bertahan

Maka lebur dalam pelukan

Erat dan keadaan menghentikan semua

Dalam gapura bertuliskan raban

Selasa, 08 Mei 2012

May day: dalam sebuah press release


Cucuran keringat menghiasi urat

Lembaran berusaha bergerak

Di gedung hijau sebuah tujuan

Kumandangkan seruan 

Dengan mencontek baris tulisan

Dekatkan bibir di pengeras

Sampai tergerak

Asal jangan memporak


Frustasi


Sendiri itu mati, mati itu menyendiri

 
Seperti kabut menyela di antara dahan-dahan basah berembun. Banyak hal yang terungkap di ujung jalan, seperti suara katak yang menyerupai suara dengkuran. Atau bayang-bayang stalaktit stalagmite di antara badan goa sangat mengingatkanku pada tubuh raksasa besar yang berhati lembut. Aku sudah sangat jauh berjalan. Langit itu sudah bosan dan bingung melihat arah tujuan perjalanan ini yang sangat tidak jelas. Aku bukan tidak memegang peta. Aku bukan tidak memegang kompas, aku siapkan semuanya. Ini bukan perihal arah, bukan perihal tersesat. Namun, ini lebih tepatnya perlawanan. Aku hanya ingin menantang kaki ini, sampai dimana iya kuat berjalan.
                Senja yang elok itu ternyata tidak bertahan di setiap hari. Langit kadang merindukan kumpulan awan gelap dan sering kita sebut mendung. Ternyata tanah, tanaman, hewan dan makhluk sekitar butuh hujan. Namun, tidak untukku. Aku membencinya, karena di sana ada petir. Ada suara gemuruh seperti amarah para kaisar langit kepada umat-umat manusia yang dzalim.
                Akhirnya aku pergi ke samudera. Samudera dimana hanya ada ikan-ikan, hamparan karang membentuk istana laut, serta tumbuhan sebagai gerbang kerajaan laut nan megah. Ku coba tulis sebuah nama, nama yang selalu ku ukir di hati. Ku ukir di sela-sela kamar kecil bahkan ku rajutmya di rumah laba-laba di gudang kotor dan kusam. Di samudera aku berenang, dan berharap tubuhku terhenti hingga aku akhirnya terperangkap di palung laut dan tak kembali. Namun, apa daya tubuh ini masih kuat. Sial
                Hari ini aku berada di hutan, mencoba teriak. Namun, suara itu berbalik dalam gema tebing yang masih kokoh padahal sudah bertahun-tahun berada di puncak ketinggian yang dingin dan sendiri. Kasihan terkadang melihat tebing ini. Terdampar sendiri, hanya menjadi objek pendakian, tetapi setelah rapuh, para penanjak dengan mudah berkata, “Ah, tebingnya sudah rapuh untuk apa dipanjat lagi.” Aku seperti berkaca didiriku sendiri. Terlihat sangat kuat, padahal rapuh.
                Berada di ruangan ini pun begitu sepi, kami selalu terlihat ramai, kami selalu saja tak berhenti berdialektika, padahal masing-masing di antara kami aku tahu ada masalah hati yang tak mampu terucap dan tak bisa dirasionalkan. Entahlah, apa ini anggapanku saja, atau memang aku yang merasakan hawa masing-masing individu di ruang ini.
                Bukan ingin meyerah dengan keadaan, melainkan ini isi jiwa yang tak pernah terbayar oleh seorang manusia sekalipun. Selaras dengan air, aku selalu menanggapi setiap hal sepenuh hati, aku meyakini kebahagiaan selalu tercipta di atas tanganku sendiri. Aku rindu tangan Tuhan yang selalu membelaiku di saat ini. Hamba macam apa aku ini. Aku merengek Tuhan memberikan keajaiban, padahal aku sendiri tak mampu memberikan apapun pada Nya. Aku tak mampu menjalani kehidupan dengan seluruh perintah Nya. Aku tuntut semua hak-hak ku tetapi abai dengan kewajibanku. Aku lalai.
                Dahulu aku pernah patuh pada Nya, berani menatap matahari, dan selalu hadir saat purnama. Namun, tidak kali ini. Aku frustasi. Hilang arah dan cenderung gila. Apa yang harus aku perbuat untuk menjadi manusia seutuhnya. Aku ingin menghilang. Diterkam badai di samudera, atau terperosok ke jurang di tengah hutan. Kemerdekaan tak pernah ada di ruang-ruang hati. Semua bersinergi dalam sebuah topeng kemunafikan, Kemudian aku yang dahulu terlihat kuat jatuh di tangannya. Aku sakit dan tak tersembuhkan. Berangan tetapi tak kunjung terkabul. Merasakan keindahan yang hanya bersifat sementara. Manusia yang selalu galau. Mendapat pelajaran tetapi tak pernah mampu belajar. Semua seperti berantai. Jangan bantu aku, aku akan berdiri, berlari, dan menyusuri sampai akhirnya Dia menutup usiaku dengan sendiri.

Sari Wijaya